Jumat, 29 Januari 2016

KISAH Mahasiswa dan Dosen di Yogyakarta Melawan Larangan Nonton Gerhana 1983

Gencarnya larangan menonton gerhana matahari total pada 11 Juni 1983 rupanya tak menyurutkan niat melihat fenomena langka itu. Instruksi itu banyak diabaikan oleh mahasiswa dan dosen di Yogyakarta.

Salah satunya adalah Muzakkir (58) yang saat itu masih kuliah di Universitas Islam Indonesia. Saat gerhana terjadi, Muzakkir memilih keluar dari asrama dan melihat gerhana. "Memang sebulannya itu di Yogyakarta sudah ada sosialisasi dari pemerintah untuk tidak melihat," kata Muzakkir kepada detikcom, Selasa (26/1/2016).

Muzakkir mengingat kala itu macam-macam alasan disampaikan agar masyarakat tidak melihat gerhana. Salah satunya adalah sinar matahari saat gerhana bisa membuat mata buta."Saya tidak percaya dengan larangan pemerintah dan segala macamnya," kata pria yang kini bekerja sebagai konsultan di Jakarta.

Saat keluar dari asrama buat melihat gerhana itu, Muzakkir benar-benar sendirian. Teman-temannya lebih memilih menonton dari televisi. Ia juga mendapati tak ada orang di jalan.

Muzakkir bercerita, saat gerhana terjadi, hari yang terik perlahan redup seperti mendung, kemudian udara mulai sejuk. "Yang dramatis waktu totalnya, gelap dan dingin sekali. Saya kaget kok bisa dingin," ujarnya.

Hingga kini, Muzakkir menyayangkan pemerintah yang tidak membolehkan masyarakat keluar saat gerhana matahari total yang menurutnya sangat memukau itu. Ia tak habis pikir mengapa pemerintah malah menakut-nakuti masyarakat.

Muzakkir tak sendirian melawan larangan pemerintah. Sekitar 500 dosen dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta juga melawan imbauan itu.

Mereka berkumpul di kawasan kampus Bulaksumur dan menikmati gerhana dengan bimbingan R.G. Rijmer, peneliti dari Amateur Astronomers Inc. "Pemerintah ini gimana sih, rugi besar jika tak melihat gerhana," kata Nardi Utomo, mahasiswa FISIPOL UGM.

Rombongan peneliti UGM di Parangtritis juga mengajak sekitar 200 penduduk setempat menonton gerhana secara langsung. Saat gerhana matahari total mencapai puncaknya, Dr. Sugeng Martopo yang memimpin rombongan itu berseru, "Lihat saja, lihat saja, tidak apa, sayang dilewatkan!"

Saat itu pengamatan oleh peneliti UGM ini didampingi Bupati Bantul Soeherman. Bersama istrinya, Soeherman berdecak kagum melihat langsung keindahan gerhana matahari total.
sumber ; http://news.detik.com/berita/3128194/kisah-mahasiswa-dan-dosen-di-yogyakarta-melawan-larangan-nonton-gerhana-1983

Tidak ada komentar:

Posting Komentar