Rabu, 03 Februari 2016

Pernah Lihat Pada 1983, Guru Ini Ajak Muridnya Tonton Gerhana 2016

 Abdul Aziz Gofur masih ingat kejadian saat masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu ia masih tinggal di Karanggandul, Purwokerto, Jawa Tengah.

"Memang benar pemerintah saat itu gencar sekali mensosialisasikan jangan melihat langsung gerhana," kata Abdul kepada detikcom, Kamis (4/2/2016). "Peristiwa langka tersebut lebih baik disaksikan lewat televisi ataupun bayang-bayang di air."

Saat itu Abdul nekat keluar rumah melawan larangan pemerintah. Ia bercerita, saat gerhana total suasana hening dan dingin. "Ayam-ayam peliharaan kami berkumpul di depan pintu kandang seperti pada saat menjelang magrib, menyangka senja telah tiba," ujarnya.

Pengalaman tak terlupakan itu selalu ia ceritakan kepada murid-muridnya di SMK Al Amanah Setu, Tangerang Selatan, Banten. Menjelang gerhana matahari total 9 Maret 2016, Abdul mengajak murid-muridnya menyaksikan gerhana.

Guru agama Islam ini meyakinkan siswanya kalau melihat gerhana tidak akan membuat mata buta asalkan dengan cara yang benar. Gerhana matahari memang hanya bisa dilihat dengan mata telanjang saat mencapai totalitasnya atau surya tertutup bulan sepenuhnya. Selain saat itu maka harus memakai alat bantu seperti kacamata gerhana atau melihat bayangannya.

Baca juga: Begini Cara Aman Melihat Gerhana Matahari Total
http://news.detik.com/berita/3116542/begini-cara-aman-melihat-gerhana-matahari-total

Sering diceritakan pengalaman melihat gerhana 1983, murid-murid Abdul pun jadi penasaran. "Pak, gerhana tahun ini lewat daerah kita enggak?"kata Abdul menirukan ucapan muridnya.

Tahun ini gerhana matahari total memang tidak melintasi Tangerang Selatan. Namun daerah ini bisa melihat gerhana matahari sebagian. Jadi selama proses gerhana sebagian ini, mereka yang ingin menikmatinya harus memakai alat bantu melihat gerhana dari awal hingga selesai.

Anda punya pengalaman saat momen gerhana matahari total tahun 1983, 1988 dan 1995 di daerah masing-masing. Silakan berbagi cerita ke redaksi@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda.

Sumber : http://news.detik.com/berita/3134595/pernah-lihat-pada-1983-guru-ini-ajak-muridnya-tonton-gerhana-2016

Senin, 01 Februari 2016

Gerhana 1983, Mata Ditutup Selendang Hingga Sembunyi di Kolong Ranjang

Berbagai pengalaman unik dialami warga saat gerhana matahari total 1983. Mulai dari bersembunyi di kolong tempat tidur, menutup mata dengan kain hingga menutup seluruh ventilasi rumah agar cahaya gerhana tidak masuk ke dalam karena dianggap bahaya.

Mariyanah, warga Jembatan Besi, Jakarta ini contohnya. Saat gerhana terjadi tahun 1983, Mariyanah baru berumur 6 tahun. Meski usianya masih kecil, namun masih membekas dalam ingatannya bagaimana fenomena alam itu menjadi sesuatu yang begitu menakutkan untuk dia dan keluarga.

"Masih jelas dalam ingatan saya saat peristiwa itu terjadi, nenek kami menyembunyikan saya dan saudara lain di bawah kolong ranjang kasur, " kata Mariyanah kepada detikcom, Senin (1/2/2016).

Mariyanah mengatakan, kala itu neneknya mengatakan gerhana matahari terjadi karena ada raksasa yang akan makan matahari. Sehingga orang-orang harus bersembunyi. Mereka juga tidak boleh keluar sampai gerhana selesai.

Namun, Mariyanah kecil mencoba menyelinap dan berusaha keluar rumah. Saat gerhana dalam kondisi total dia melihat melalui baskom air yang diletakan di depan rumah.

"Saat itu gelap banget. Di dalam baskom yang terisi air ada bayangan bulat warna hitam, ada cahaya warna oranye di sekitar lingkaran itu," katanya.

Senada dengan Mariyanah, Anang juga merasakan hal yang sama. Saat itu usianya baru menginjak 6 tahun. Ibunda Anang menyuruh 3 orang anaknya untuk bersembunyi di kamar. Semua ventilasi dan jendela ditutup agar sinar matahari tidak bisa masuk.

Namun saat gerhana belum sepenuhnya terjadi, sinar matahari terlihat masuk di dalam kamar karena rumah Anang tanpa plafon dan sebagian menggunakan genteng kaca. Sinar matahari menembus genteng kaca dan masuk ke dalam kamar.

"Mungkin saking takut terjadi pada anak-anaknya, ibu saya menyobek selendang dan saat cahaya mulai gelap buru-buru ibu menutup mata kami bertiga dengan sobekan selendang tersebut dan di paksa agar kami tidur," ucap Anang.

"Saking takutnya saya sempat menangis, namun buru-buru ibu memeluk erat tubuh kami dan kamipun tertidur dengan mata tertutup selendang meski kami sudah di dalam kamar," tambah Anang.

Gerhana matahari total akan kembali terjadi di Indonesia 9 Maret 2016 mendatang. Istimewanya gerhana ini hanya terjadi di Indonesia dan masyarakat bisa melihat gerhana tanpa ada larangan dari pemerintah seperti tahun 1983 lalu. Mereka tidak perlu lagi bersembunyi di dalam kamar atau takut mata buta karena terkena sinar matahari. Gerhana matahari total tidak berbahaya asal melihatnya dengan cara yang benar
sumber : http://news.detik.com/berita/3131946/gerhana-1983-mata-ditutup-selendang-hingga-sembunyi-di-kolong-ranjang

Jumat, 29 Januari 2016

Gerhana 1983, Astronom Dunia Berkumpul di Borobudur Sampai Rumah Bu Diyah

Yogyakarta - Saat peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT), 11 Juni 1983 atau 33 tahun yang lalu banyak mendapat perhatian dunia internasional terutama para ahli astronomi dari berbagai negara seperti Perancis, Amerika Serikat, Jerman Barat, Jepang dan Inggris. Mereka ingin meneliti peristiwa GMT atau Total Solar Eclipse yang paling langka terjadi.

Selain itu peristiwa GMT di Indonesia waktu itu merupakan terlama dalam sejarah gerhana. Lama gerhana matahari total selama lebih dari 5 menit. Hal itu berarti GMT yang lebih lama dibandingkan yang pernah terjadi negara lain di tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah Indonesia waktu itu memusatkan kegiatan pengamatan GMT dari kawasan Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah. Di tempat itu disiarkan langsung stasiun TVRI bekerja sama dengan NHK Jepang. Namun pada ahli astronomi dunia ada yang memilih kegiatan pengamatan di tempat lain seperti Yogyakarta, Sleman, Bantul, Boyolali, Solo dan Purworejo.

Waktu itu ada ratusan pengamat asing dan dari Indonesia termasuk mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari berbagai disiplin ilmu yang ikut mengamati dan meneliti.

Berdasarkan berita yang dimuat Harian Kedaulatan Rakyat, hari Kamis Wage, 2 Juni 1983 ada sekitar 86 astronom yang mengamati GMT di Boyolali. Mereka mulai berdatangan. Salah satunya, dua orang astronom dari Manchester University of England. Mereka adalah M. Poirier dan D. James yang sudah membawa peralatan lengkap.

Di Boyolali mereka menginap di rumah Ny Diyah Subroto di Kampung Sidodadi dengan ongkos sewa Rp 25 ribu/hari. Mereka tinggal di rumah itu hingga tanggal 14 Juni 1983.

Saat itu Pemerintah Kabupaten Boyolali telah membentuk seksi penelitian GMT, yang dikepalai Drs Sutikno telah mendata dan mencatat sebanyak 82 orang astronom asing yang akan datang, termasuk dari Jepang. Rombongan dari Jepang tidak menginap di Boyolali tapi di Solo. Selain itu ada rombongan dari Italia sebanyak 40 orang, Jerman Barat sebanyak 3 orang, Institut Pertanian Bogor (IPB) sebanyak 100 orang dan mahasiswa dari Jakarta sebanyak 100 orang.

Selain di Boyolali di Lapangan Bayan kabupaten Purworejo juga ada banyak pengamat asing yang melakukan pengamatan GMT dari wilayah itu. Sementara itu Pemda Jawa Tengah mencatat adar 1.873 turis asing yang datang ke Jawa Tengah yang akan menyaksikan peristiwa GMT.
sumber : http://news.detik.com/berita/3124674/gerhana-1983-astronom-dunia-berkumpul-di-borobudur-sampai-rumah-bu-diyah

Begini Cara Aman Melihat Gerhana Matahari Total


Begini Cara Aman Melihat Gerhana Matahari Total Gerhana matahari (Foto: Istimewa/Getty Images)
Jakarta - Gerhana matahari total akan terjadi di Indonesia pada 9 Maret 2016 pagi hari. Langit di pagi hari yang tiba-tiba berubah gelap karena gerhana matahari total ini akan menjadi pemandangan yang menarik dan indah untuk diamati.

Pengamatan gerhana matahari total ini tidak berbahaya asal dilakukan dengan cara-cara yang aman. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menjelaskan sinar gerhana matahari total tidak akan membuat mata buta, justru saat gerhana total mencapai puncaknya maka itu adalah saat yang tepat untuk melihat keindahan korona atau mahkota matahari secara langsung tanpa penghalang.



Cara yang aman untuk mengamati gerhana adalah saat matahari perlahan tertutup bulan dan kondisi langit berangsur menjadi gelap (gerhana matahari sebagian) dianjurkan untuk menggunakan filter atau kacamata khusus untuk melihat matahari. Cara melihatnya juga jangan terlalu fokus karena saat itu matahari belum semuanya tertutup dan sebagian sinar matahari masih memancar kuat hingga bisa merusak retina mata.


Contoh pengamatan menggunakan kacamata khusus gerhana (Foto: Istimewa/Getty Images)


"Jadi menyaksikan beberapa menit, tidak terlalu asik, sesekali melihat ke tempat lain dan tidak fokus ke matahari itu akan aman-aman saja," ucap Thomas.

Gerhana matahari total (Foto: Istimewa/Getty Images)


Saat matahari tertutup total dan langit menjadi gelap, filter yang melindungi mata bisa dilepas. Keindahan gerhana matahari total bisa disaksikan langsung dengan mata. Namun harus diingat, jangan terlalu lama menatap karena durasi gerhana matahari total ini hanya 2 sampai 3 menit saja. Setelah itu matahari akan tersibak dan langit kembali cerah. Saat matahari mulai tersibak maka filter mata harus dipakai agar cahaya matahari tidak merusak retina.

"Ketika bulan mulai tersibak lepas dari matahari, maka piringan matahari yang terang itu akan menyilaukan sekali padahal pupil mata sedang membesar dan itu yang bisa merusak retina mata," kata Thomas.

Gerhana matahari sebagian (Foto: Istimewa/Getty Images)


Soal tempat, Thomas menyarankan melihatnya di lokasi lapang yang tidak terhalang pohon atau benda lainnya. Misalnya saja pantai, lapangan atau tempat yang tinggi.

Thomas mengimbau agar warga bisa melihat fenomena yang indah ini, jangan sampai keindahan gerhana matahari total justru dihindari seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1983 lalu. Kala itu warga begitu takut melihat gerhana matahari total secara langsung karena adanya anggapan sinar matahari saat gerhana bisa membuat mata buta.

"Kita harus sosialisasi kepada masyarakat kalau melihat fenomena gerhana matahari itu aman asal tidak terlalu asik melihatnya. Jadi jangan ada lagi pembohongan massal yah seperti tahun 1983, gerhana matahari berbahaya, orang suruh masuk ke dalam rumah, jendela-jendela rumah dikunci," ucap Thomas.

Sementara itu komunitas astronomi Langit Selatan dalam websitenya mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengamati gerhana matahari total. Untuk Gerhana Matahari Total 2016 di Indonesia, akan ada area yang bisa menikmati momen ketika matahari sepenuhnya ditutupi bulan, akan tetapi ada juga daerah yang hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian. Untuk bisa menikmati gerhana matahari di tahun 2016, ada aturan yang harus selalu diingat.

Aturan itu adalah ketika matahari masih tampak di langit, jangan pernah melihat matahari dengan mata tanpa alat. Gunakan filter matahari pada kacamata matahari selama pengamatan. Jangan gunakan kacamata hitam, film yang diekspos, CD, atau filter lainnya, karena dapat membahayakan mata.

Ketika terjadi totalitas selama 2-3 menit, matahari sudah tidak tampak dan pengamat bisa melihat langsung ke korona matahari. Akan tetapi, segera setelah totalitas berakhir dan matahari tampak kembali, kenakan kacamata gerhana yang sudah dilengkapi filter matahari untuk menyaksikan gerhana sebagian.

 
Ilustrasi: Mindra Purnomo
SUMBER : http://news.detik.com/berita/3116542/begini-cara-aman-melihat-gerhana-matahari-total

3 Menit Gerhana Matahari Total yang Mempesona


3 Menit Gerhana Matahari Total yang Mempesona Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta - Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 merupakan fenomena yang spesial karena hanya terjadi di Indonesia. Durasi waktunya pun layak dinanti karena hanya berlangsung dalam hitungan menit.

"Durasinya pas di daerah sentralnya (dilewati bayangan gerhana) itu sekitar 3 menit. Di pinggirnya 2 menit, jadi lama gerhana itu sekitar 3 sampai 2 menit," ucap Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin saat berbincang dengan detikcom di kantornya, Jalan Pemuda Persil No.1 Rawamangun, Jakarta Timur beberapa waktu lalu.

Namun perlu dicatat bahwa durasi tersebut hanya untuk proses gerhana matahari totalnya saja. Sementara untuk proses menuju gerhana matahari total sampai selesai memerlukan waktu hingga hitungan jam. Setiap daerah yang dilintasi juga berbeda-beda waktunya, misalnya di Palembang durasi gerhana akan terjadi selama 1 menit 52 detik. Warga di sana bisa menyaksikan matahari secara perlahan akan tertutup bulan sejak pukul 06.20 WIB.

Saat itu suasana yang terang perlahan akan menjadi gelap karena sedikit demi sedikit matahari akan tertutup. Puncaknya matahari akan tertutup total pada pukul 07.20 WIB. Saat inilah warga bisa menikmati keindahan atmosfer matahari atau korona yang tidak akan bisa dilihat jika tidak terjadi gerhana. Atmosfer matahari akan terlihat bersinar indah di tengah gelapnya langit.

Gerhana matahari (Foto:Istimewa/Getty Images)


Momen saat matahari tertutup total inilah yang banyak diabadikan dengan kamera atau video. Warga juga bisa menyaksikannya dengan mata telanjang tanpa harus menggunakan filter atau kacamata.
"Pada saat matahari tertutup, korona atau mahkota matahari bisa terlihat dengan indah. Kalau hari-hari biasa nggak bisa dilihat karena kalah oleh cahaya matahari yang terang. Warnanya indah sekali, merah, hijau, kuning gitu," jelas Thomas.

Keindahan gerhana matahari total ini hanya berlangsung 2 sampai 3 menit, setelah itu secara perlahan matahari akan tersibak. Sinar matahari yang terang akan kembali memancar ke bumi dan kondisi langit berangsur cerah. Saat ini warga sudah tidak bisa menyaksikan dengan mata telanjang karena sinar matahari berbahaya untuk mata. Di Palembang gerhana matahari total akan selesai pukul 08.31 WIB.




Durasi yang singkat dan hanya bisa disaksikan di Indonesia dengan rentang waktu yang tidak setiap tahun membuat fenomena ini begitu banyak dinanti. Selain di Palembang ada beberapa daerah lainnya yang akan dilintasi gerhana matahari total. Berikut daftarnya dalam infografis:


 
Ilustrasi: Mindra Purnomo Detikcom Photo
 
SUMBER : http://news.detik.com/berita/3116209/3-menit-gerhana-matahari-total-yang-mempesona

Saat Hewan Malam 'Tertipu' Gerhana Matahari Total


Saat Hewan Malam Tertipu Gerhana Matahari Total Foto: Thinkstock
Jakarta - Selain berdampak pada perubahan cuaca yang menjadi lebih gelap, ternyata Gerhana Matahari Total (GMT) juga bisa 'menipu' hewan-hewan malam. Tak hanya itu, banyak juga mitos-mitos yang beredar di masyarakat terkait GMT ini. Apa saja?

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan walaupun gerhana matahari total hanya berlangsung singkat yakni 2 sampai 3 menit namun bisa menimbulkan perubahan perilaku pada hewan-hewan karena menganggap malam telah datang. Misalnya saja ayam masuk kandang karena mengira waktu sudah petang, padahal gerhana matahari terjadi di siang hari.

"Siang tiba-tiba gelap itu binatang-binatang di malam hari menunjukkan perubahan perilaku. Itu memang ada penelitian, misal ayam ada perubahan perilaku mulai gelap berubah masuk kandang, serangga di malam lebih aktif," kata Thomas saat berbincang dengan detikcom di kantornya, Jalan Pemuda Persil No.1 Rawamangun, Jakarta Timur beberapa waktu lalu.

Thomas mencontohkan GMT yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1983 lalu, saat itu matahari tertutup bulan dan menjadi gelap seperti waktu petang. Saat itu, korona atau atmosfer matahari yang sehari-hari tidak bisa terlihat karena sinar yang bergitu terang menjadi bisa terlihat. Fenomena istimewa dan indah.

"Ketika gelap piringan matahari tertutup seperti kondisi Magrib, tapi kalau Magrib masih ada senjanya. Kalau ini, gelap ada cahayanya lembut sekali, suasana seperti ada cahaya bulan, gelap. Masih bisa lihat sekitar tapi remang-remang. Di ufuk timur mataharinya tidak terlihat tapi koronanya kelihatan," jelasnya.

Selain berpengaruh pada perilaku hewan, GMT juga berkaitan dengan mitos-mitos yang ada di masyarakat. Misalnya saja ibu hamil harus bersembunyi di kolong tempat tidur agar anak yang ada dalam kandungan tidak belang seperti gerhana yang hitam. Ada juga tidak boleh keluar rumah karena berbahaya terkena pancaran gerhana.

Thomas menegaskan tidak ada hubungan antara gerhana dengan ibu hamil atau sinar matahari yang berbahaya saat gerhana.

"Gerhana matahari tidak memancarkan radiasi yang berbeda dari pada radiasi yang ada pada matahari. Gerhana matahari total itu radiasi matahari tertutup oleh bulan tidak berbahaya sama sekali," kata Thomas.

"Gerhana sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap mahluk hidup. Gerhana itu seperti halnya peredaran bulan mengitari bumi kemudian pada suatu saat matahari berada dalam satu garus lurus. Jadi tidak terjadi dampak apapun bagi manusia dan pengaruh buruk. Itu hanya mitos-mitos lama," tambahnya
sumber : http://news.detik.com/berita/3120546/saat-hewan-malam-tertipu-gerhana-matahari-total

Antara Penjelasan Ilmiah dan Mitos Raksasa Makan Matahari

Peristiwa matahari terhalang oleh bulan sehingga sebagian wilayah di bumi menjadi gelap secara ilmiah disebut dengan peristiwa gerhana. Namun  ternyata di sejumlah daerah gerhana ini sering dikatikan dengan mitos-mitos yang ada.

Misalnya di Jawa, ada mitos yang menyebut fenomena gerhana ini terjadi saat  raksasa jahat yang sangat berkuasa Batara Kala atau Rahu menelan matahari karena dendam kepada Dewa Matahari. Untuk membantu Dewa Matahari, orang-orang diminta untuk menumbuk lesung dan membuat suara berisik.

"Warga disuruh menumbuk lesung agar Sang Surya bisa lepas," kata  Avivah Yamani, salah satu pengurus komunitas astronomi Langit Selatan saat berbincang dengan detikcom di Cihampelas Walk, Bandung beberapa waktu lalu.

"Kalau di Maluku Utara, katanya setan atau suanggi makan matahari, lalu hrs bikin bunyi-bunyian atau tarian, agar suanggi atau setan melepas matahari. Tapi itu kan cuma mitos," tambahnya.

Sementara untuk pengaruh pada kehidupan, Avivah mengatakan gerhana matahari tidak berpengaruh untuk manunsia. Justru fenomena ini bisa berpengaruh pada hewan.

"Ada pengaruhnya ke hewan-hewan. Di mana hewan siang akan bersiap tidur karena disangka malam, dan hewan malam akan keluar karena disangka sudah malam," ucapnya.


Foto: Istimewa/Getty Images


Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin. Menurutnya walaupun gerhana matahari total hanya berlangsung singkat yakni 2 sampai 3 menit namun bisa menimbulkan perubahan perilaku pada hewan-hewan karena menganggap malam telah datang. Misalnya saja ayam masuk kandang karena mengira waktu sudah petang, padahal gerhana matahari terjadi di siang hari.

"Siang tiba-tiba gelap itu binatang-binatang di malam hari menunjukkan perubahan perilaku. Itu memang ada penelitian, misal ayam ada perubahan perilaku mulai gelap berubah masuk kandang, serangga di malam lebih aktif," kata Thomas
sumber : http://news.detik.com/berita/3121874/antara-penjelasan-ilmiah-dan-mitos-raksasa-makan-matahari